Skip to Content

Prabowo Di Goreng Sosial Media Mengenai Tampang Boyolali

Prabowo Di Goreng Sosial Media Mengenai Tampang Boyolali

Closed
by November 5, 2018 BERITA POLITIK, BERITA VIRAL

saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel hotel ewah tersebut m kalo kalian masuk kalian pasti akan di usir karena bukan tampang orang kaya “kata prabowo subianto , calon presiden nomor urut 02 dalam acara peresmian kantor badan pemenangan nasional prabowo sandi di boyolali jawa tengah ,

“tampang kalian ya tampang boyolali , lanjut prabowo dalam konteks saat menjelaskan sola keadilan di masyarakat.

 

pidato  itu memang di sambut gelak tawa oleh hadirin , tapi ucapan  “tampang boyolali tersbut jadi riuh di dunia maya twiitter . “tampang boyolali” jadi trending topic dengan mengunakan hastaf aliag tager #saveboyolali , yang diinisiasi oleh akun @manggabusuk pada no 2 november 2018 pukul 4.43 menanggapi kicauan @eko_kuntachi yang mentranskrip pidato itu .

memanfaatkan alat analisis twitter brenama tweet blinder #saveboyolali cukup memantik keriuhan di twitter . hanya dengan 153 original tweet , hastag tersebut sukses menggapai lebih dari 1,,7 follower atau pengguna twitter yang mengikuti akun akun yang bercuit #saveboyolali . tercatat akun @s_quasiah jadi akun yang paling aktif soal hastag ini ,.

“Tampang Boyolali” bukan cuma diterjemahkan melalui #SaveBoyolali. Ada pula hashtag #SaveMukaBoyolali, yang menyusul kemudian. Hashtag tersebut, dianalisis menggunakan alat yang sama, sukses menggapai lebih dari 1,4 juta pengguna Twitter hanya dari 289 original tweet. Dan dalam 2 jam, sejak Minggu (4/11) pukul 12 siang, tercatat ada lebih dari 2.000 tweet yang berkicau #SaveMukaBoyolali.

Riuh soal “tampang Boyolali” di Twitter membingungkan Prabowo. Katanya, “saya bingung kalau saya bercanda dipersoalkan. Kalau saya begini begitu dipersoalkan.” Namun, secara tersirat, Prabowo menganggap keramaian dari ucapannya merupakan bagian dari strategi politik di musim kampanye. “Saya tahu tapi ini adalah politik. Ini adalah musim politik.”

Ismail Fahmi, Analis media sosial sekaligus pendiri Drone Emprit, mengatakan ramainya Twitter dengan “tampang Boyolali” sah-sah saja, khususnya bila digunakan oleh kubu lawan Prabowo.

“Tim Jokowi ini efektif dan efisien. Secara jumlah tim Jokowi yang di media sosial lebih banyak dibandingkan tim oposisi,” kata Ismail kepada Tirto.

Ismail menduga pola “menggoreng” isu di media sosial bisa dilakukan dengan cara yang sistematis. Pertama-tama dengan cara mencari noise (kesalahan ucap) dari pihak lawan yang akan dibidik. Setelah noise diperoleh, “Langsung pakai robot (bot) dalam jam pertama dan kedua supaya (noise tersebut) jadi trending topic.”

Penggunaan bot untuk menjadikan suatu noise jadi ramai di Twitter merupakan instruksi yang lantas ditanggapi oleh key opinion leader atau orang-orang yang punya pengaruh di media sosial.

“Key opinion leader itu semacam influencer, tokoh-tokohnya,” urai Ismail. “Begitu mereka (key opinion leader) ngomong, langsung diikuti follower-nya.”

Inilah yang jadi alasan mengapa hanya dengan 153 original tweet berhashtag#SaveBoyolali sukses menggapai lebih dari 1,7 juta pengguna Twitter. Selain itu, sebanyak 289 original tweet #SaveMukaBoyolali juga sanggup menggapai 1,4 juta pengguna Twitter.

Namun, Ridlwan Habib, anggota Gugus Informasi Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin membantah tim sukses Jokowi yang memulai memainkan isu “tampang Boyolali” di Twitter. Ia menegaskan ramainya soal “tampang Boyolali” di media sosial adalah “alamiah dan spontan saja.” Namun Ridlwan tak menampik bahwa “kawan-kawan hanya mengikuti netizen yang sudah ramai membahasnya.”

Hashtag alias pound sign alias tanda pagar merupakan salah satu fitur yang dimiliki Twitter, yang dirilis pada Agustus 2007. Ia digunakan untuk memudahkan para pengguna Twitter mengikuti suatu perbincangan dengan tema tertentu.

Yarimar Bonilla, dalam papernya berjudul “#Ferguson: Digital Protest, Hashtag Ethnohraphy, and the Racial Politics of Social Media in the United States” mengatakan hashtag memiliki fungsi clerical. Ia memungkinkan pengurutan dan pengambilan informasi tentang suatu topik tertentu dengan cepat. Misalnya, dalam kasus Ferguson di Amerika Serikat, rincian kematian Michael Brown yang diunggah oleh para pengguna Twitter akan muncul ketika hashtag #Ferguson diklik.

Previous
Next